Perawatan Gigi Gratis di Poltekkes Kemenkes Bandung

Alat Praktik Gigi
Alat Praktik Gigi. Peralatan ini yang digunakan untuk melakukan perawatan terhadap gigi saya/alifiharafi.com

Sudah sangat lama saya berencana untuk membersihkan karang gigi yang selalu saja tertunda, berakhir watjana. Pada saat itu saya mendapatkan informasi dan kontak dari Hashri, bahwa ada perawatan gigi gratis yang diselenggarakan oleh para mahasiswa/i Poltekkes Kemenkes Bandung. Hashri pun memperoleh informasi tersebut setelah bertemu mahasiwa/i yang berkunjung ke Masjid Salman. Perawatan gigi tersebut mencakup penanganan untuk gigi berlubang dan membersihkan karang gigi. Nah, setelah mendapatkan informasi gratisan, biasanya walaupun mendadak, saya bisa saja menyempatkan waktu, hehe. 😀

Saya pun mencoba menghubungi nomor kontak salah seorang mahasiswi di sana melalui WhatsApp, sebut saja NS, yang saya peroleh dari Hashri. Sebelumnya bagi “calon pasien” perlu melakukan reservasi (janjian waktu) terlebih dahulu. Sebelum melakukan reservasi, saya masih ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai perawatan gigi gratis tersebut, hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa saya akan baik-baik saja setelahnya. 😀

Syarat dan Ketentuan serta Informasi Lainnya

Terdapat beberapa persyaratan dan informasi lainnya untuk mendapatkan pelayanan perawatan gigi gratis, saya mendapatkan informasi ini melalui chat dengan NS (saya lakukan normalisasi teks — bahasanya sudah mengarah ke text-processing sehingga diabaikan saja ya — untuk lebih jelas dibaca):

“[…] Ini salah satu program rutin dari jurusan keperawatan gigi. Untuk semester kemarin kan mengoptimalkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Tapi untuk sekarang pengoptimalan kesehatan individu. Jadi kakak dirawat giginya. Mulai dari ada masalah sampai tidak ada masalah lagi. Sampai tuntas kak”.

Syarat dan Ketentuan:

  1. Memiliki keluhan gigi berlubang
  2. Memiliki keluhan karang gigi
  3. Tidak sedang dalam perawatan orthodontik (kawat behel)
  4. Bisa meluangkan waktu untuk perawatan (senin-kamis) dan meluangkan waktu untuk kontrol (lebih dari 2 kali kunjungan)
  5. Sehat jasmani dan rohani
  6. Berdomisili Bandung Kab. Bandung atau Cimahi karena tempat perawatannya berada di Bandung
  7. Komitmen (bisa datang untuk kontrol dan perawatan)

Beberapa Pertanyaan Sebelum Memutuskan Menjadi Pasien

Saya pun sempat menanyakan beberapa hal lain kepada NS yang saya tulis ulang di bawah ini:

Pertanyaan 1:

  • P: “Apakah akan dikenakan biaya jika terdapat suatu kondisi atau tertentu? atau tidak perlu mengeluarkan biaya apapun?”
  • J: “Oh iya kak belum saya sampaikan. Paling ada biaya untuk kasus rujukan, kak 🙂 karena di sini yang digratiskan hanya tindakan yang sesuai dengan kompetensi saya (penambalan gigi berlubang dan pembersihan gigi gratis) 🙂 jadi baiknya kita cek dulu kak atau bisa juga gigi yang dikeluhkannya di foto, lalu dikirim via WA 🙂

Pertanyaan 2:

  • P: “Apakah saya akan baik-baik saja? Kasus paling buruk apa yang sekiranya akan terjadi pada saya? sejujurnya saya paranoid, hehe.
  • J: “Oh, untuk resiko tindakannya ya? Tidak akan apa-apa kak inshaa allah. Kita juga didampingi tenaga ahli profesional seperti dokter gigi. Setiap tindakan kita perlu disetujui terlebih dahulu. Baik pengkajian atau apapun itu. Bahkan hal kecil seperti mencuci tangan pun harus. Apalagi melakukan tindakan 😁
    Inshaa allah aman kak, haha.. kan sudah berpengalaman pada semester sebelumnya. Dan dari pasien sebelumnya belum pernah ada keluhan 🙂 Lalu ini kan sampai tuntas kak untuk perawatannya. Pasti akan terpantau :)”.

Pertanyaan 3:

  • P: “Waktu praktik yang tersedia kapan ya?”
  • J: “Mulai dari hari Senin s/d Kamis, pukul 08.00 s/d 12.00 WIB”.

Pertanyaan 4:

  • P: “Kalau boleh tahu saya pasien keberapa ya? hehe”.
  • J: “Keberapa ya, semester 4 pasiennya puluhan. Kalau semester sekarang ke-8 atau sudah belasan ya, karena tahun ini bukan banyaknya. Tetapi keseriusannya, karena perlu dirawat sampai tuntas”.

Setelah saya melakukan chat melalui WhatsApp pada hari Minggu (01/10) saya mendapatkan jadwal perawatan gigi pada hari Kamis minggu depan, pukul 09.30 WIB, bertempat di Kampus Poltekkes Bandung. Syukurlah jadwal perawatan gigi yang tersedia sesuai dengan waktu luang saya.

Oh iya, kebetulan jadwal hari Senin-Rabu sudah full. Hari Kamis saja yang ada waktunya.

Sebelumnya saya diminta mengirimkan foto untuk melihat kondisi gigi dan mulut saya. Saya sempat kesulitan untuk mengambilnya, sehingga perlu bantuan adik saya untuk mendapatkan foto gigi dan mulut saya keseluruhan.

Sesampainya di Lokasi Praktik pada Hari-H

Pada hari Kamis (15/10) saya berkunjung ke lokasi. Pintu masuk menuju lokasi kampus tersebut berdekatan dengan gerbang Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin Bandung, sehingga tidak begitu kesulitan untuk menemukannya.

Sesampainya saya di sana, saya langsung parkir kendaraan di area khusus pasien. Ketika memasuki ruangan, ada seorang Ibu berseragam yang bertanya kepada saya, “Pasien?“. Saya langsung jawab “ya saja, lalu dipersilakan masuk untuk duduk di kursi tunggu pasien dekat tangga.

Saya mencoba menghubungi langsung NS melalui WhatsApp mengenai prosedur pendaftaran, namun tak kunjung dibalas. Saya pikir NS sedang sibuk melakukan praktik sehingga tidak sempat memeriksa ponselnya. Lalu saya menunggu sekitar 45 menit, sampai saya pikir ada mahasiswi yang tepat untuk saya tanya, karena mahasiswi tersebut mengenakan pakaian serba putih dan mengenakan masker seperti perawat. “Mohon maaf mba, saya ingin menanyakan bagaimana ya prosedur pendaftaran untuk pelayanan perawatan gigi gratis, saya sudah janjian untuk datang hari ini?“, lalu mahasiswi tersebut bertanya balik, “Waktu itu mendapatkan kontak dengan siapa ya? Masih ingat?“, saya jawab “namanya NS“. Syukurlah kebetulan mahasiswi yang saya tanya kenal dengan NS, sehingga saya hanya diminta untuk menunggu sebentar sambil di kursi sampai NS mendatangi saya.

Setelah saya bertemu dengan NS, saya kaget, jadwal saya dengan NS yang ditentukan “kamis minggu depan”, ternyata diagendakan kamis minggu depannya lagi (12/10), saya pikir kamis (05/10). Kesalahan saya juga sebenarnya tidak menyebutkan tanggal agar lebih jelas. Saya berdiri lalu mengangkat tas, memberikan gestur untuk berpamitan dan pulang. Namun, NS mengajak untuk memeriksa gigi saya terlebih dahulu, apakah memenuhi syarat atau tidak untuk pertemuan kamis depan. Lalu saya mengikuti NS menuju suatu ruangan, dipersilakan masuk dan duduk sambil membukakan mulut.

Dari hasil pemeriksaan gigi saya tersebut, ternyata saya tidak memenuhi persyaratan, karena hanya terdapat karang gigi saja. Saya pikir menurut informasi yang telah diberikan sebelumnya (dapat dilihat pada tulisan ini dibagian atas, pada bagian Syarat dan Ketentuan) karang gigi saja bisa dilayani, ternyata harus memiliki karang gigi dan gigi berlubang minimal sebanyak 2 lubang. Sementara pada gigi saya tidak terdapat lubang sama sekali. Saya pikir ada satu di bagian geraham atas kiri, ternyata itu hanya karang gigi. Pada satu sisi saya bersyukur tidak ada gigi berlubang, padahal saya kurang begitu intens merawat gigi.

Kembali saya memberikan gestur untuk berpamitan. “Mohon maaf ya kak, ternyata tidak ada gigi berlubang, hanya karang gigi saja, syaratnya harus ada dua-dua-nya. Setelah ini mau kemana kak?“, tanya NS. “Saya akan kembali ke kampus mba“, jawab saya. Saya berpamitan lalu segera menuju tempat parkir. Ketika baru saja sampai di tempat parkir, NS terlihat berlari menyusul saya. “Mohon maaf kak, saya tadi lupa memberikan informasi, bahwa teman saya bisa melayani untuk membersihkan karang gigi saja“. Dalam hati, “syukurlah saya tidak bergegas pergi“. Saya meng-iya-kan, lalu kembali masuk mengikuti NS.

Setelah memasuki bangunan yang sama, saya diminta kartu identitas (KTP) untuk melakukan registrasi. Tidak lama saya menunggu, saya mendapatkan kartu pasien dan diperkenalkan dengan teman NS yang akan melakukan terhadap gigi saya, yaitu AA. Saya pun memasuki ruangan yang berbeda dari sebelumnya, lebih luas, ramai, dan bisa melihat pasien lainnya sedang dilayani.

Beberapa Pertanyaan Sebelum Melakukan Praktik

Sebelum saya “dieksekusi” oleh AA, saya mendapatkan beberapa pertanyaan. Saya coba tuliskan di bawah pertanyaan-pertanyaan yang masih saya ingat:

  1. “Apa keluhan gigi kakak yang utama saat ini?” — khusus untuk pertanyaan ini saya menjawab hanya ingin membersihkan karang gigi saja pada bagian paling bawah dan geraham kiri bagian atas.
  2. “Apakah kakak pernah membersihkan karang gigi sebelumnya?”
  3. “Kapan terakhir kali kakak membersihkan karang gigi atau melakukan perawatan gigi?”
  4. “Apakah kakak tahu cara menyikat gigi dengan benar?”
  5. “Apakah kakak tindakan-tindakan untuk merawat gigi?”
  6. “Berapa kali kakak menyikat gigi dalam sehari?”
  7. “Kapan saja waktu kakak menyikat gigi?”
  8. “Apakah kakak merokok?”
  9. “Apakah kakak mengonsumsi minuman beralkohol?” — khusus pertanyaan ini juga, AA husnudzon ternyata sama saya, jadi langsung dilewati dengan komentar “kalau ini engga mungkin ya kak“, tapi memang saya tidak mengonsumsi alkohol.
  10. “Apakah kakak mengonsumsi minuman bersoda?”
  11. “Apakah kakak suka meminum kopi atau teh? Seberapa sering?”
  12. “Apakah kakak suka mengonsumsi yang manis-manis? Apa saja? Seberapa sering?”
  13. “Apakah kakak suka mengonsumsi sayuran dan buah-buahan? Seberapa sering?”
  14. “Apakah kakak saat ini dalam keadaan sehat?”
  15. “Apakah kakak pernah dirawat di Rumah Sakit selama 5 tahun terakhir?”
  16. “Apakah kakak memiliki riwayat penyakit darah tinggi?” — saya agak lupa untuk pertanyaan ini, apakah ditanyakan atau tidak, atau mungkin menanyakan riwayat penyakit spesifik lain.
  17. “Apakah kakak termasuk cepat berhenti mengeluarkan darah jika terjadi pendarahan?”
  18. “Apakah kakak memiliki bagian gigi yang sensitif? seperti ngilu berlebih?”

Setelah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, AA melakukan pemeriksaan gigi namun lebih detil daripada yang dilakukan NS sebelumnya. Satu persatu kondisi gigi saya dicatat, setiap gigi memiliki “angka”. Saya menanyakan pencatatan ini keperluannya untuk apa? AA menjawab ini semua perlu dilakukan untuk melakukan scoring. Total skor yang saya dapatkan sebesar 11,5. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat kerusakan gigi dan mulut. Perolehan skor dibawah 11 itu merupakan rentang skor yang bisa dikatakan “aman”, kondisi gigi dan mulut semakin baik jika skor semakin kecil. Sementara saya kelebihan skor 0,5. Lucu juga ya. 😀

“Kalau dilihat dari skor dan kondisi gigi dan mulut kakak sudah cukup baik, tidak ada yang berlubang, hanya perlu dibersihkan saja. Oh ya kak, sekedar informasi, jika kakak suka mengonsumsi teh, setelahnya berkumur-kumur ya kak, seperti kebiasaan kakak setelah makan, karena teh dan kopi akan meninggalkan “stain” (kalau dalam bahasa indonesia artinya “noda”)” — AA.

Lalu AA pun menjelaskan bahwa plak dan stain itu berbeda. Plak atau karang gigi lebih mudah dibersihkan daripada stain yang sangat sulit dibersihkan. Terutama bagi perokok akan meninggalkan stain sehingga gigi berwarna coklat atau hitam pekat, serta menyebabkan kondisi gigi dan mulut yang tidak sehat.

Setelah itu saya dipersilakan untuk membuka mulut, agar AA bisa meneteskan disclosing solution (cairan berwarna merah) sebanyak 3 tetes di belakang lidah, lalu saya meratakan tetesan cairan merah tersebut keseluruh bagian gigi sampai merah merata. Tujuannya untuk mengetahui bagian gigi mana saja yang lewatkan ketika saya menyikat gigi dengan cara saya selama ini.

“Kalau kakak merasa ukuran kepala sikat gigi terlalu besar, kakak bisa mencari sikat gigi yang memiliki ukuran kepala lebih kecil seperti sikat gigi anak supaya bisa menjangkau bagian dalam gigi. Pilih bulu sikat yang lembut juga kak, jangan terlalu keras, supaya tidak melukai gusi”, ujar AA sambil mempraktikan kepada saya bagaimana cara melakukan sikat gigi yang sesuai dengan anjuran.

Lalu saya pun berdiri, berjalan kebagian belakang ruangan untuk menyikat gigi. Jika hasil sikat gigi saya “kurang menyeluruh”, pada bagian gigi masih terdapat warna kemerahan. Secara keseluruhan sudah tidak ada gigi yang berwarna merah, sudah bersih dan sesuai anjuran, hehe. 😀

“Kakak biasa sikat gigi sebelum sarapan pagi? Baiknya kakak sikat gigi setelah sarapan, tunggu dulu 30 menit setelah sarapan, sampai kadar keasaman di mulut sudah tidak terlalu tinggi, baru sikat gigi. Awalnya mungkin agak sulit, tapi nanti juga kakak terbiasa jika sudah melakukannya 21 hari berturut-turut. Saya juga biasa sampaikan itu juga kepada anak-anak” — AA.

Saat Proses Praktik Berlangsung dan Setelahnya

Proses pembersihan karang gigi pun dimulai. Supaya mulut saya tidak lama “menganga”, AA perlu memberikan isyarat kepada saya ketika diperlukan, agar saya terhindar dari pegal-pegal rahang, hehe. 😀

Selama proses pembersihan karang gigi berlangsung, saya merasa AA mengukir sesuatu pada gigi saya, haha. Saya sempat teringat, AA memberikan antiseptic dengan lipatan kain kasa pada bagian gigi saya yang mengeluarkan sedikit darah, namun hal ini tidak perlu dikhawatirkan, saya sendiri bahkan tidak sempat melihat darah atau merasakan sakit sama sekali. Sesekali saya perlu berkumur-kumur saat proses pembersihan karang gigi atas inisiatif sendiri jika terasa ada “sesuatu” (baca: serpihan karang gigi) yang terlepas, maupun ketika diminta oleh AA.

Saya pun masih sempat bertanya istilah-istilah yang AA sebut dengan teman-teman disebelahnya yang sedang praktik juga. Sedikit kepo mengenai “apa itu KMP?“, “apa itu ART?” dan lain sebagainya. Syukurlah AA bersedia menjawab setiap pertanyaan tersebut, yang sepertinya saya cukup banyak bertanya. Saya pun berpikir jika saya terus bertanya disaat AA melakukan perawatan terhadap gigi saya, AA menjadi kurang konsentrasi. Seketika itu saya memilih diam sementara, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terhadap saya.

KMP (Karies Menuju Pulpa). Karies adalah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi akibat aktivitas mikroba. Sementara pulpa adalah bagian dari anatomi gigi yang terletak didalam atau dibawah lapisan dentin. Pada pulpa terdapat jaringan pembuluh darah dan saraf, kalau tidak salah terletak pada bagian tengah gigi.

ART (Atraumatic Restorative Treatment), sederhananya merupakan prosedur untuk menangani masalah karies gigi secara manual. Sempat AA berbagi cerita, jika ditempatkan di wilayah pedesaan tentu serba terbatas dan prosedur manual menggunakan ART diperlukan.

Tidak terasa selesai juga AA membersihkan gigi saya, bahkan saya sempat tertidur (maklum, seingat saya semalam baru tidur kurang lebih 2 jam). Rasanya seperti lebih nyaman dan ringan di mulut. Beberapa kali AA menanyakan, “Apakah masih ada bagian gigi yang kasar setelah pembersihan karang gigi? coba diperiksa dengan lidah, bandingkan dengan gigi yang lain“, saya jawab “ya, masih terasa sedikit kasar“, sampai tiga kali, hehe. AA sendiri yang mengatakan harus sampai bersih, karena setiap praktik yang dilakukan akan diperiksa oleh dosen yang mendampingi (Namun, pada akhirnya saya tidak diperiksa. Saya mendengar bahwa Sang Dosen melewatkan pemeriksaan hasil praktik yang AA lakukan terhadap saya karena hasil scoring saya 11,5. Dianggap baik-baik saja mungkin sehingga dilewatkan?).

“Kalau kakak mengunyah makanan lebih dominan di bagian gigi mana? Baiknya ketika mengunyah makanan bagian kiri dan kanan gigi dipakai juga, jangan dominan di salah satu. Karena jika salah satu jarang dipakai justru nanti lebih rentan terkena karang gigi” — AA

Berdasarkan jurnal yang saya temukan (Triyanto & Nugroho, 2017), “Air liur di mulut akan banyak keluar saat kita mengunyah dan air liur ini menstabilkan flora normal rongga mulut, bila hanya mengunyah di satu sisi saja, maka yang akan bersih satu sisi tersebut, sedangkan sisi yang lain berisiko banyak timbul plak atau karang gigi”.

Syukurlah, gigi saya akhirnya benar-benar bersih dan tidak terasa kasar. Saya coba berkaca di depan cermin dengan mulut menganga, memang sudah sudah bersih. Keren!

“Kalau misalkan setelah beres nanti mengeluarkan sedikit darah, jarak antar gigi sedikit renggang, jangan khawatir ya kak. Kurang lebih sekitar satu minggu akan membaik dan kembali normal. Baiknya mengonsumsi sayuran atau buah-buahan” — AA.

Praktik Selesai

Diakhir perjumpaan dengan AA, sambil mengantarkan saya dari ruang praktik ke area parkir, AA masih memberikan saya kesempatan untuk bertanya, “apakah masih ada pertanyaan?“, mungkin karena saya kepo atau terlalu banyak bertanya ya? maafkan. “Jika masih ada pertanyaan bisa chat dengan saya atau NS ya kak. Untuk melakukan perawatan lagi juga sebenarnya bisa datang kesini lagi“. Jika berdasarkan Syarat dan Ketentuan di atas, saya harus melakukan perawatan rutin sampai selesai. Saya pikir akan ada pertemuan selanjutnya, namun bagi saya hanya cukup datang sekali pada hari itu saja.

Saya mengajukan pertanyaan terakhir mengenai cara mengunyah makanan sampai 30 kali. “Apakah itu perlu?”. AA menjawab, “dulu saya mempelajari itu juga, mengunyah makanan sampai 32 kali, tapi perlu disesuaikan juga, jika makanan sudah cukup lembut, bisa ditelan, tujuannya agar proses pencernaan makanan lebih baik”.

Saya pun pernah mendengar atau membaca penelitian dari beberapa universitas bahwa mengunyah makanan tergantung dari makanan apakah lembut atau keras? Makanan lembut dikunyah sekitar 10-15 kali, sedangkan jika keras sekitar 30 kali. Beberapa manfaat dari mengunyah makanan dengan tepat yaitu makanan akan bercampur dengan enzim dengan sempurna, pencernaan lebih lancar, penyerapan nutrisi lebih maksimal, mengurangi jumlah kalori (saya pernah dengar ini dari teman saya yang sedang melakukan diet, supaya langsing katanya), serta memberikan kesempatan waktu dari perut untuk menyampaikan sinyal ke otak — Mohon maaf untuk bagian ini saya belum sempat mencantumkan sumber.

Saya sangat berterima kasih kepada AA yang telah bersedia membersihkan gigi saya, dan NS yang mempertemukan saya dengan AA. Serta memberikan saya berbagai informasi dan edukasi mengenai perawatan gigi. Gigi saya pun keren kembali dan yang paling penting gratis, haha. Syukurlah saya masih dilayani walaupun saya salah jadwal dan (sedikit) tidak memenuhi persyaratan 😀

Menurut informasi yang saya peroleh langsung dari AA, bahwa pada saat Semester 4 & 5 berlangsung, para mahasiswa/i jurusan Keperawatan Gigi di sana membutuhkan pasien untuk praktik. Jadi perawatan gigi gratis ini akan saling menguntungkan mahasiswa/i maupun pasien.

Berminat untuk mencoba? Gratis lho. Tapi jangan lupa membaca Syarat dan Ketentuan yang telah dituliskan di atas terlebih dahulu. Sekian. 😀

 

Referensi:

Triyanto, R., Nugroho, C. (2017): Efek Mengunyah Satu Sisi Terhadap Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut. IOHJ (Indonesia Oral Health Journal).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *